TIMES DELI, JAKARTA – Presiden FIFA, Gianni Infantino kembali memantik kontroversi setelah secara terbuka menyatakan keinginannya agar larangan Rusia tampil di kompetisi sepak bola internasional dicabut. Menurutnya, sanksi yang sudah berjalan hampir empat tahun itu “tidak mencapai apa pun” selain memperpanjang rasa frustrasi dan kebencian.
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, klub-klub dan tim nasional Rusia disuspensi dari seluruh ajang FIFA dan UEFA. Kebijakan ini membuat Rusia tersingkir dari Piala Dunia 2022 serta seluruh kompetisi antarklub dan antarnegara Eropa “hingga waktu yang belum ditentukan”.
Infantino: Sepak Bola Jangan Disandera Politik
Dalam wawancara dengan Sky Sports, Infantino menegaskan bahwa sepak bola seharusnya tidak menghukum sebuah negara atas tindakan elite politiknya. “FIFA seharusnya tidak pernah melarang sebuah negara bermain sepak bola karena perbuatan para pemimpin politiknya,” ujar Infantino seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, membuka kembali akses bagi anak-anak dan remaja Rusia untuk bertanding di negara-negara Eropa justru dapat menjadi jembatan kemanusiaan. “Seseorang harus menjaga agar hubungan tetap terbuka,” katanya, seraya mendorong pencabutan larangan setidaknya untuk kategori usia muda.
Kritik Keras dari Ukraina
Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari Ukraina. Menteri Olahraga Ukraina Matvii Bidnyi menyebut pandangan Infantino sebagai “tidak bertanggung jawab” dan “kekanak-kanakan”.
Menurut Bidnyi, memisahkan sepak bola dari realitas perang adalah pendekatan yang keliru. “Pernyataan itu mencabut sepak bola dari kenyataan di mana anak-anak sedang dibunuh,” ujarnya, menegaskan bahwa sanksi olahraga memiliki dimensi moral dan simbolik yang tak bisa diabaikan.
UEFA Tetap Bersikukuh
Berbeda dengan FIFA, UEFA masih mempertahankan garis keras. Presiden UEFA Aleksander Ceferin menegaskan bahwa Rusia baru bisa kembali jika perang di Ukraina berakhir. Sikap ini konsisten dengan pernyataannya dalam Kongres UEFA pada April tahun lalu.
UEFA sempat mencoba melonggarkan kebijakan pada 2023 dengan mengizinkan tim U-17 Rusia tampil. Namun keputusan tersebut segera ditarik setelah mendapat penolakan luas dari federasi anggota.
Di sisi lain, FIFA Council pada Desember lalu mengumumkan rencana penyelenggaraan festival U-15, dengan turnamen putra digelar tahun depan dan putri pada 2027. Acara ini disebut terbuka bagi seluruh 211 asosiasi anggota FIFA—sebuah sinyal yang dinilai membuka celah bagi kembalinya Rusia, setidaknya di level usia muda. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: FIFA Dorong Pencabutan Sanksi untuk Rusia, UEFA Menolak
| Pewarta | : Wahyu Nurdiyanto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |